JAKARTA – Dalam penanganan kasus pidana, publik umumnya fokus pada hasil akhir berupa penetapan tersangka. Namun, proses di balik itu melibatkan berbagai fungsi yang bekerja secara berlapis dan terkoordinasi. Hal ini tergambar jelas pada kasus pemalsuan sertifikat tanah di kawasan pagar laut Segarajaya, Kabupaten Bekasi, yang mencatatkan sembilan tersangka pada April 2025.
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Djuhandhani Rahardjo Puro, menjelaskan bahwa penetapan tersangka ini merupakan hasil rangkaian kerja yang mencakup gelar perkara, pengawasan penyidikan, serta kajian oleh penyidik madya. Proses ini dilakukan secara simultan dan tidak bisa dianggap sebagai tindakan satu tahap atau satu orang saja.
Dalam kasus ini, penyidik telah memeriksa 40 saksi serta melakukan analisis laboratorium forensik terhadap 93 sertifikat yang diduga dimanipulasi. Hal ini menegaskan bahwa alat bukti dibangun secara bertahap melalui kombinasi keterangan saksi, hasil laboratorium, dan pengawasan penyidikan yang saling melengkapi sebelum berkas perkara siap diajukan ke penuntutan.
Setiap tersangka dikenakan pasal berbeda sesuai peran mereka, mulai dari pihak yang diduga memalsukan dokumen hingga petugas administrasi pendaftaran tanah. Perbedaan peran ini bisa dipetakan secara akurat melalui pemeriksaan berlapis, bukan asumsi awal penyidik.
Struktur organisasi Bareskrim Polri menunjukkan penyidikan dijalankan lintas fungsi, yaitu Direktorat Tindak Pidana Umum, unit pengawasan penyidikan, dan laboratorium forensik yang bekerja berdampingan untuk memperkuat hasil penyidikan. Sepanjang 2025, Polri menangani 325.345 kasus pidana dengan tingkat penyelesaian 76 persen, mencerminkan pentingnya koordinasi dan proses menyeluruh dalam penyidikan.
Kasus di Bekasi ini memperlihatkan bahwa menangani perkara kompleks tidak dapat dilakukan oleh satu penyidik secara tunggal. Profesionalisme reserse dicerminkan dari kemampuan menyusun bukti secara sistematis dan memerlukan waktu, ketelitian, serta kepercayaan antar fungsi yang terlibat di dalamnya.
Publik hanya melihat pengumuman tersangka, namun di balik itu ada proses lama yang meliputi pemeriksaan saksi hingga verifikasi dokumen forensik. Kasus pagar laut Bekasi memberikan contoh nyata bahwa keberhasilan penyidikan membutuhkan kerja tim yang solid dan terkoordinasi, bukan sekedar tindakan individual semata.
Sumber: Katadata

