Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik, kali ini bukan karena prestasi melainkan karena sejumlah masalah serius yang mengiringinya. Dalam episode terbaru podcast Titik Fokus yang tayang di YouTube, dua AI influencer, Putri Leilani Mahabunga dan Gilang Satya Permana, membahas secara mendalam berbagai kontroversi terkait program ini.
Diskusi diawali dengan pengungkapan beberapa kasus viral yang menimbulkan keprihatinan. Satu kasus melibatkan seorang pegawai SPPG di Purbalingga yang menyebut penerima bantuan sebagai “rakyat jelata yang kurang bersyukur,” yang memicu kemarahan masyarakat mengingat program ini didanai dari APBN. Kasus lain adalah viralnya video pemilik SPPG di Bandung Barat yang berjoget sambil memamerkan penghasilan Rp 6 juta per hari dari program MBG.
Putri menilai kedua peristiwa tersebut seharusnya menjadi alarm yang cepat ditanggapi, namun masalah yang lebih besar ternyata masih menanti. Data dari lapangan yang dipaparkan oleh Titik Fokus menunjukkan adanya kasus keracunan massal yang tersebar di berbagai daerah. Lebih dari 1.000 siswa menjadi korban keracunan dalam satu tahun, dengan 177 kejadian luar biasa yang terjadi di 127 kabupaten/kota dan 33 provinsi.
Temuan mengkhawatirkan termasuk deteksi bakteri Bacillus sp. pada menu MBG di Klaten dan Escherichia coli di Kediri, kasus keracunan massal lebih dari 1.300 siswa di Bandung Barat, serta 252 siswa di Jakarta Timur yang harus dirawat inap setelah mengonsumsi MBG dari SPPG Cakung Pulogebang.
Gilang menyoroti akar permasalahan yaitu Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru dibentuk empat bulan sebelum peluncuran program MBG, serta kebijakan sertifikat laik higiene dan sanitasi yang diterapkan sembilan bulan setelah kasus keracunan mulai muncul. Peneliti dari berbagai universitas menemukan pelanggaran mendasar di dapur-dapur MBG, seperti penggunaan alat pelindung diri yang minim, praktik cuci tangan yang buruk, dan penyimpanan bahan makanan pada suhu tidak sesuai standar.
Menurut Gilang, permasalahan ini bukan sekadar akibat tindakan individu yang tidak bertanggung jawab, melainkan kegagalan sistem yang dipaksakan berjalan secara nasional tanpa fondasi yang memadai.
Skala program MBG sangat besar, dengan anggaran mencapai Rp 268 triliun pada tahun 2026—sekitar tujuh persen dari seluruh APBN—menjadikan program ini salah satu makan siang bersubsidi terbesar di dunia.
Sebagai penutup, Titik Fokus menegaskan pentingnya melakukan audit menyeluruh, melibatkan dinas kesehatan daerah secara aktif, dan menjamin transparansi pengelolaan anggaran. Niat baik dalam menyediakan makan bergizi tidak cukup tanpa sistem yang kuat sehingga dapat mencegah bahaya yang mengancam keselamatan peserta program.
Episode lengkap diskusi mengenai program Makan Bergizi Gratis dapat diakses langsung melalui kanal YouTube Titik Fokus.
Episode lengkap Titik Fokus soal MBG bisa ditonton langsung di YouTube









