Jakarta – Operasi Patuh 2026 dan agenda Zero ODOL 2027 meskipun tampak sebagai dua program berbeda, memiliki tujuan utama yang sama, yaitu melindungi keselamatan masyarakat di jalan raya.
Kakorlantas Polri Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. menegaskan keselamatan sebagai dasar dari setiap kebijakan lalu lintas. “Baik Operasi Patuh maupun Zero ODOL memiliki tujuan yang sama: melindungi masyarakat,” ujarnya.
Operasi Patuh mendorong kesadaran masyarakat terhadap aturan dan etika berkendara guna mengurangi pelanggaran yang dapat berujung fatal, seperti melawan arus, menerobos lampu merah, menggunakan ponsel saat berkendara, atau mengabaikan helm.
Sementara itu, Zero ODOL fokus menata kendaraan angkutan barang agar tidak melebihi dimensi dan muatan yang mempercepat kerusakan infrastruktur serta membahayakan pengguna jalan.
Pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membangun keselamatan jalan. Pengguna jalan harus tertib, kendaraan layak jalan, serta sistem pengawasan yang konsisten.
Operasi Patuh dan Zero ODOL mencoba menjawab hal ini dari sisi perilaku pengendara dan tata kelola kendaraan angkutan barang. Kerusakan jalan akibat ODOL tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menjadi sumber kecelakaan baru.
Teknologi seperti Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) turut mendukung penegakan hukum yang lebih objektif, transparan, dan terukur. Namun, teknologi harus didukung edukasi dan kesadaran masyarakat untuk membangun budaya transportasi bertanggung jawab.
Kesimpulannya, Operasi Patuh dan Zero ODOL bukan hanya soal penertiban atau tilang, melainkan gerakan bersama untuk menciptakan jalan raya yang lebih aman, infrastruktur terlindungi, dan keselamatan lalu lintas yang terjamin. Pernyataan ini berasal dari sumber resmi korlantaspolri, mediahub, dan polri.go.id.









